Prinsip Sirkular Ekonomi
Dalam beberapa dekade terakhir, model ekonomi linear yang didasarkan pada prinsip "ambil, buat, tumpuk/buang" telah berdampak pada eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan penumpukan limbah yang mengkhawatirkan. Menyikapi tantangan lingkungan dan keterbatasan sumber daya ini, konsep ekonomi sirkular muncul sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan (sustainable). Ekonomi sirkular bertujuan untuk menjaga nilai produk, material, dan sumber daya selama mungkin dalam siklus ekonomi, serta meminimalkan limbah dan dampak lingkungan.
Selain itu, ekonomi sirkular mengintegrasikan prinsip-prinsip desain yang mengedepankan pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle) material dalam setiap tahap rantai nilai. Ini memerlukan perubahan mendasar dalam cara kita merancang, memproduksi, menggunakan, dan mendaur ulang produk.
Ekonomi Sirkular di Negara Maju
Ekonomi sirkular adalah model ekonomi yang berfokus pada penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang material serta produk untuk meminimalkan limbah dan penggunaan sumber daya baru. Beberapa contoh ekonomi sirkular di negara maju antara lain:
Ekonomi Sirkular Berbasis Lingkungan
Ekonomi sirkular berbasis lingkungan mencakup berbagai strategi dan pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan melalui siklus hidup produk yang lebih berkelanjutan. Beberapa konsep utama ekonomi sirkular berbasis lingkungan meliputi:
1. Desain Produk Berkelanjutan
2. Pengurangan Limbah
3. Daur Ulang dan Penggunaan Kembali
4. Ekonomi Berbasis Sumber Daya Terbarukan
5. Pertanian Berkelanjutan
6. Pengelolaan Limbah Organik
7. Perbaikan dan Remanufaktur
8. Ekonomi Berbagi
9. Manajemen Sumber Daya Air
10. Teknologi Bersih dan Inovasi
Potensi Sumber Daya di Kalimantan
Kalimantan dikenal dengan kekayaan hutan tropis, tambang batu bara, minyak kelapa sawit, dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, aktivitas ekonomi yang intensif di sektor-sektor ini sering kali menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Misalnya, deforestasi akibat pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan penambangan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan biodiversitas.
Meskipun potensi ekonomi sirkular di Kalimantan sangat besar, terdapat beberapa tantangan yang harus diatasi, seperti kurangnya infrastruktur yang memadai, kebutuhan akan teknologi canggih, dan resistensi terhadap perubahan dari pelaku industri tradisional. Selain itu, diperlukan kebijakan dan regulasi yang mendukung serta pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberlanjutan, seperti kutipan pada website resmi Pemprov Kalimantan Selatan, “masih ada kendala dalam pengelolaan sampah yang dihadapi oleh masyarakat, seperti kurangnya tempat pembuangan sampah dan jarak yang terlalu jauh”.
Berdasarkan pengamatan penulis sungai-sungai di Kalimantan Selatan terus mengalami pencemaran akibat sampah yang terjebak di bawah rumah panggung bantaran sungai. Bahkan setiap hari ratusan ton sampah dibuang ke sungai. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, mencatat volume sampah yang dihasilkan 700 ribu lebih warga ibukota provinsi Kalsel tersebut mencapai 608 ton perhari dan 30 persennya tidak masuk ke TPA dan sebagian dibuang ke daerah aliran Sungai Martapura, Kepala Bidang Tata Lingkungan, Dinas LH Kota Banjarmasin, Dwi Naniek. Dari 13 kota dan kabupaten, banjarmasin menjadi salah satu tertinggi.
Sampah masih jadi persoalan besar di Kota Banjarmasin. Sampah-sampah banyak mengapung maupun berserakan di perairan maupun daratan. Di daratan banyak muncul tempat pembuangan sampah (TPS) liar dengan sampah meluber ke jalanan. Kondisi beberapa TPS resmi di Banjarmasin juga tak jauh lebih baik seperti TPS Kelurahan Gadang, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Sejumlah pengendara yang melintas dengan bebas melempar sampah semau mereka. Di TPS resmi lainnya, sampah meluber sampai ke jalanan sampai menimbulkan bau tak sedap, apalagi saat hujan.
Alive Yoesfah Love, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin mengatakan, persoalan sampah di kota ini kian sulit. Perilaku masyarakat yang mau serba ringkas, katanya, jadi salah satu faktor masalah. Sampah di sungai, luberan sampah TPS, dan banyak TPS-TPS liar menjadi sederet contoh kalau warga enggan membuang sampah di tempat dan waktu yang ditentukan, sehingga faktor edukasi dan teladan dari para orang yang berpengaruh adalah hal yang bisa memasifkan budaya peduli terhadap sampah, minimal sampah dari yang kita produksi sendiri.
Hamdi, ahli Tata Kota dan Lingkungan di Banjarmasin, menilai, Pemerintah Kota Banjarmasin masih setengah hati menangani soal sampah. Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini tidak punya road-map jelas. Pemerintah Banjarmasin dianggap tidak konsisten terhadap beberapa langkahnya mengenai sampah. Karena bagaimanapun sebaiknya teknologi yang kita terapkan yang kita punya di pengelolaan sampah, kalau tidak dilalui dengan pengelolaan sampah itu sendiri, mulai dari rumah sudah dipilah. Jangan sampai sampah sudah terlanjur menumpuk tercampur dan sudah terkontaminasi dengan vektor penyakit itu akan lebih sulit lagi, oleh karena itu kita akan mencoba bagaimana kita mengajarkan medukasi kepada masyarakat khususnya dari anak kecil sudah kita coba belajar bagaimana mengelola sampah memisah sampah.
Saat ini beberapa metode pembuangan sampah yang ada di Kalimantan menggunakan metode open dumping adalah sistem pembuangan sampah di suatu cekungan terbuka tanpa menggunakan tanah sebagai penutup. Cara ini sudah tidak direkomendasikan lagi oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat teknis suatu TPA sampah. Open dumping berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan. Sistem ini mengakibatkan pencemaran air dan tanah karena cairan lindi serta pencemaran udara gas metana. Binatang seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk juga dapat berkembang biak di TPA open dumping.
Hanifah, menambahkan, Gubernur Kalsel dan Sekda Kalsel juga sudah mengeluarkan surat edaran terkait imbauan agar bupati/walikota terus melakukan inovasi pengelolaan sampah yang lebih baik, khususnya di wilayah yang TPA sampahnya masih memberlakukan open dumping.
Pengelolaan sampah organik terpadu melalui biokonversi larva Black Soldier Fly (BSF) menawarkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan untuk tantangan limbah perkotaan, seperti daerah perkotaan Pulau Kalimantan diantaranya banjarmasin, banjarbaru, kota baru, samarinda, palangkaraya, balikpapan, dll yang semakin hari kian bertambah penduduk seiring dengan adanya program pemerataan daerah dan pemindahan ibu kota negara (IKN). Dengan memanfaatkan kemampuan alami larva BSF dalam mengurai sampah organik, kota-kota dapat mengurangi volume limbah yang menuju tempat pembuangan akhir (TPA), mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menghasilkan produk bernilai tambah seperti pupuk organik dan pakan ternak serta produk turunan lainnya melalui proses riset dan development.
Implementasi solusi ini tidak hanya membutuhkan teknologi yang tepat, tetapi juga keterlibatan aktif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, komunitas lokal, dan masyarakat. Edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah serta manfaat biokonversi harus ditingkatkan untuk mendukung keberhasilan program ini.
Selain itu, dukungan kebijakan dan regulasi yang mendukung praktik ekonomi sirkular, termasuk insentif bagi perusahaan yang menerapkan biokonversi larva BSF, dapat mendorong adopsi yang lebih luas. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta juga penting untuk memastikan bahwa infrastruktur yang diperlukan tersedia dan berfungsi dengan efektif.
Di era di mana keberlanjutan menjadi kunci utama dalam pengembangan perkotaan, solusi seperti pengelolaan sampah organik dengan biokonversi larva BSF menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, limbah tidak lagi harus dilihat sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Dengan demikian, kita dapat bergerak menuju kota-kota yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.
(oleh Ahmad Mujahid)
DAFTAR REFERENSI
Cek juga postingan kita di :
https://www.instagram.com/p/DO7DL1qE-gv/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==