Potensi Sirkular Ekonomi di Kalimantan

Dibaca 60x 19 Feb 2026

Potensi Sirkular Ekonomi di Kalimantan


Prinsip Sirkular Ekonomi

Dalam beberapa dekade terakhir, model ekonomi linear yang didasarkan pada prinsip "ambil, buat, tumpuk/buang" telah berdampak pada eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan penumpukan limbah yang mengkhawatirkan. Menyikapi tantangan lingkungan dan keterbatasan sumber daya ini, konsep ekonomi sirkular muncul sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan (sustainable). Ekonomi sirkular bertujuan untuk menjaga nilai produk, material, dan sumber daya selama mungkin dalam siklus ekonomi, serta meminimalkan limbah dan dampak lingkungan.

Selain itu, ekonomi sirkular mengintegrasikan prinsip-prinsip desain yang mengedepankan pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle) material dalam setiap tahap rantai nilai. Ini memerlukan perubahan mendasar dalam cara kita merancang, memproduksi, menggunakan, dan mendaur ulang produk.

 

Ekonomi Sirkular di Negara Maju

Ekonomi sirkular adalah model ekonomi yang berfokus pada penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang material serta produk untuk meminimalkan limbah dan penggunaan sumber daya baru. Beberapa contoh ekonomi sirkular di negara maju antara lain:

  1. Belanda
  • Platform Daur Ulang Bahan Bangunan: Belanda memiliki berbagai inisiatif untuk mendaur ulang bahan bangunan. Salah satu contohnya adalah Madaster, sebuah platform yang mendokumentasikan bahan-bahan bangunan untuk memfasilitasi daur ulang dan penggunaan kembali.
  • Circular Economy Program: Pemerintah Belanda memiliki target untuk menjadi ekonomi sirkular sepenuhnya pada tahun 2050. Mereka telah mengimplementasikan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung hal ini, termasuk peraturan untuk memperpanjang masa pakai produk dan mempromosikan desain produk yang mudah diperbaiki dan didaur ulang.
  1. Jerman
  • Daur Ulang Elektronik: Jerman memiliki sistem pengelolaan limbah elektronik yang sangat efisien. Program ini mendorong pengumpulan dan daur ulang produk elektronik, seperti komputer dan telepon seluler.
  • Kota dengan Zero Waste: Beberapa kota di Jerman, seperti Munich, memiliki program zero waste yang ambisius. Program ini mencakup berbagai inisiatif untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang limbah kota.
  1. Swedia
  • Energy from Waste: Swedia terkenal dengan program konversi limbah menjadi energi. Negara ini menggunakan limbah yang tidak dapat didaur ulang untuk menghasilkan energi, sehingga mengurangi jumlah limbah yang masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
  • Mendaur Ulang Tekstil: Swedia juga memiliki program untuk mendaur ulang tekstil dan pakaian bekas. Inisiatif seperti mendaur ulang tekstil menjadi bahan baru yang dapat digunakan untuk membuat pakaian baru.
  1. Finlandia
  • Perusahaan Daur Ulang Inovatif: Finlandia memiliki banyak perusahaan yang berfokus pada inovasi daur ulang, seperti Kamupak yang menyediakan layanan pengemasan ulang yang ramah lingkungan untuk industri makanan.
  • Desain Produk yang Berkelanjutan: Banyak perusahaan di Finlandia yang fokus pada desain produk yang dapat diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang, seperti Nokia yang mendesain ponsel dengan mempertimbangkan keberlanjutan.
  1. Denmark
  • Pengelolaan Limbah Plastik: Denmark memiliki inisiatif untuk mendaur ulang plastik dalam jumlah besar dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
  • Circular Cities: Beberapa kota di Denmark, seperti Copenhagen, berkomitmen untuk menjadi kota sirkular dengan menerapkan berbagai program dan kebijakan untuk mendukung ekonomi sirkular, termasuk transportasi berkelanjutan dan pengelolaan limbah yang efisien.
  1. Jepang
  • E-Waste Recycling: Jepang memiliki sistem yang sangat efisien untuk mengelola limbah elektronik. Program ini mendorong pengumpulan, pemrosesan, dan daur ulang produk elektronik bekas.
  • Mottainai: Konsep tradisional Jepang yang berarti "jangan sia-siakan," sangat selaras dengan prinsip ekonomi sirkular. Ini diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pengelolaan limbah dan penggunaan sumber daya.
  • Ekonomi sirkular di negara maju biasanya didukung oleh kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, dan kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap keberlanjutan.

 

Ekonomi Sirkular Berbasis Lingkungan

Ekonomi sirkular berbasis lingkungan mencakup berbagai strategi dan pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan melalui siklus hidup produk yang lebih berkelanjutan. Beberapa konsep utama ekonomi sirkular berbasis lingkungan meliputi:

1. Desain Produk Berkelanjutan

  • Desain Modular: Produk dirancang dengan komponen yang mudah diganti atau diperbaiki, seperti elektronik dengan baterai yang dapat diganti atau furnitur yang dapat dirakit ulang.
  • Material Tahan Lama: Menggunakan material yang lebih kuat dan tahan lama untuk memperpanjang umur produk.
  • Desain untuk Daur Ulang: Menggunakan material yang dapat didaur ulang dan memastikan produk mudah untuk dibongkar saat akhir masa pakainya.

2. Pengurangan Limbah

  • Efisiensi Material: Mengurangi jumlah bahan yang digunakan dalam produksi dengan teknologi canggih seperti pencetakan 3D dan manufaktur presisi.
  • Pengurangan Emisi: Meningkatkan efisiensi energi dalam proses produksi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

3. Daur Ulang dan Penggunaan Kembali

  • Fasilitas Daur Ulang: Membangun dan mengoperasikan fasilitas yang memproses limbah menjadi bahan baku baru, seperti pabrik daur ulang plastik atau logam.
  • Program Penggunaan Kembali: Menyediakan layanan yang memperbaiki dan memperbarui produk bekas sehingga dapat digunakan kembali, misalnya program refurbish untuk perangkat elektronik.

4. Ekonomi Berbasis Sumber Daya Terbarukan

  • Energi Terbarukan: Menggunakan sumber energi seperti matahari, angin, dan biomassa dalam proses produksi dan operasi sehari-hari.
  • Bahan Baku Terbarukan: Mengganti bahan baku yang tidak dapat diperbarui seperti plastik berbasis minyak bumi dengan alternatif terbarukan seperti plastik berbasis tanaman.

5. Pertanian Berkelanjutan

  • Pertanian Organik: Menggunakan praktik pertanian yang tidak menggunakan pestisida atau pupuk kimia, melainkan pupuk kompos dan pestisida alami.
  • Agroforestri: Menggabungkan tanaman dengan pohon-pohon untuk meningkatkan keanekaragaman hayati dan kesehatan tanah.
  • Rotasi Tanaman: Mengubah jenis tanaman yang ditanam pada suatu lahan secara bergilir untuk menjaga kesuburan tanah dan mengurangi hama.

6. Pengelolaan Limbah Organik

  • Kompos dan Biokonversi Larva BSF: Mengubah limbah organik seperti sisa makanan dan limbah pertanian menjadi kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk alami dan pakan ternak
  • Biogas: Menggunakan limbah organik untuk menghasilkan biogas melalui proses fermentasi anaerobik, yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan.

7. Perbaikan dan Remanufaktur

  • Pusat Perbaikan: Menyediakan layanan untuk memperbaiki produk yang rusak agar dapat digunakan kembali, seperti pusat perbaikan elektronik atau kendaraan.
  • Remanufaktur: Proses di mana produk yang rusak atau usang diperbaiki, diperbarui, dan dipasarkan kembali dengan standar kualitas yang sama atau lebih tinggi dari produk baru.

8. Ekonomi Berbagi

  • Car-sharing: Layanan berbagi kendaraan yang mengurangi kebutuhan akan kepemilikan mobil pribadi, seperti GoCar, GrabCar, dan Zipcar.
  • Shared Workspace: Ruang kerja bersama yang memungkinkan beberapa perusahaan atau individu untuk berbagi ruang kantor, mengurangi kebutuhan akan pembangunan baru.
  • Tool Libraries: Perpustakaan alat di mana orang dapat meminjam alat yang jarang digunakan seperti bor atau gergaji, mengurangi pembelian alat baru.

9. Manajemen Sumber Daya Air

  • Penggunaan Ulang Air: Mengolah air limbah untuk digunakan kembali dalam industri atau irigasi.
  • Sistem Pengelolaan Air: Menggunakan teknologi canggih untuk memantau dan mengelola penggunaan air secara efisien, termasuk pengumpulan air hujan dan penyaringan air limbah (IPAL).

10. Teknologi Bersih dan Inovasi

  • Teknologi Bersih: Mengadopsi teknologi yang mengurangi emisi dan limbah, seperti produksi energi surya dan angin, serta kendaraan listrik.
  • Inovasi Proses Produksi: Mengembangkan proses produksi baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan, seperti bioteknologi dan nanoteknologi.

 

Potensi Sumber Daya di Kalimantan

Kalimantan dikenal dengan kekayaan hutan tropis, tambang batu bara, minyak kelapa sawit, dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, aktivitas ekonomi yang intensif di sektor-sektor ini sering kali menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Misalnya, deforestasi akibat pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan penambangan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan biodiversitas.

  1. Peluang Penerapan Ekonomi Sirkular
  • Pengelolaan Limbah Sawit: Industri kelapa sawit di Kalimantan menghasilkan limbah organik yang besar. Dengan teknologi dan pendekatan ekonomi sirkular, limbah ini dapat diolah menjadi kompos, biogas, dan produk bernilai tambah lainnya. Ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru.
  • Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang: Lahan bekas tambang di Kalimantan dapat direhabilitasi menggunakan teknik-teknik ekologis untuk mengembalikan fungsi ekologisnya. Penerapan ekonomi sirkular dalam hal ini melibatkan penanaman kembali dengan tanaman lokal yang dapat mendukung keanekaragaman hayati dan penggunaan lahan yang berkelanjutan.
  • Ekoturisme Berkelanjutan: Dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya lokal, Kalimantan dapat mengembangkan ekoturisme yang berkelanjutan. Ini akan mendorong pelestarian lingkungan sambil memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal.
  • Pemanfaatan Lahan Gambut sebagai pertanian terintegrasi, kalimantan merupakan pulau yang sebagian besar adalah aliran sungai dan lahan gambut bahkan rawa, maka sebagaimana prinsip kehidupan adalah dimana ada air berlimpah disitu ada potensi ekonomi yang bisa berkelanjutan.
  1. Tantangan dalam Penerapan Ekonomi Sirkular

Meskipun potensi ekonomi sirkular di Kalimantan sangat besar, terdapat beberapa tantangan yang harus diatasi, seperti kurangnya infrastruktur yang memadai, kebutuhan akan teknologi canggih, dan resistensi terhadap perubahan dari pelaku industri tradisional. Selain itu, diperlukan kebijakan dan regulasi yang mendukung serta pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberlanjutan, seperti kutipan pada website resmi Pemprov Kalimantan Selatan, “masih ada kendala dalam pengelolaan sampah yang dihadapi oleh masyarakat, seperti kurangnya tempat pembuangan sampah dan jarak yang terlalu jauh”.

Berdasarkan pengamatan penulis sungai-sungai di Kalimantan Selatan terus mengalami pencemaran akibat sampah yang terjebak di bawah rumah panggung bantaran sungai. Bahkan setiap hari ratusan ton sampah dibuang ke sungai. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, mencatat volume sampah yang dihasilkan 700 ribu lebih warga ibukota provinsi Kalsel tersebut mencapai 608 ton perhari dan 30 persennya tidak masuk ke TPA dan sebagian dibuang ke daerah aliran Sungai Martapura, Kepala Bidang Tata Lingkungan, Dinas LH Kota Banjarmasin, Dwi Naniek. Dari 13 kota dan kabupaten, banjarmasin menjadi salah satu tertinggi.

Sampah masih jadi persoalan besar di Kota Banjarmasin. Sampah-sampah banyak mengapung maupun berserakan di perairan maupun daratan.  Di daratan banyak muncul  tempat pembuangan sampah (TPS) liar dengan sampah meluber ke jalanan. Kondisi beberapa TPS resmi di Banjarmasin juga tak jauh lebih baik seperti TPS Kelurahan Gadang, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Sejumlah pengendara yang melintas dengan bebas melempar sampah semau mereka. Di TPS resmi lainnya, sampah meluber sampai ke jalanan sampai menimbulkan bau tak sedap, apalagi saat hujan.

Alive Yoesfah Love, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin mengatakan, persoalan sampah di kota ini kian sulit. Perilaku masyarakat yang mau serba ringkas, katanya,  jadi salah satu faktor masalah.  Sampah di sungai, luberan sampah TPS, dan banyak TPS-TPS liar menjadi sederet contoh kalau warga enggan membuang sampah di tempat dan waktu yang ditentukan, sehingga faktor edukasi dan teladan dari para orang yang berpengaruh adalah hal yang bisa memasifkan budaya peduli terhadap sampah, minimal sampah dari yang kita produksi sendiri.

Hamdi, ahli Tata Kota dan Lingkungan di Banjarmasin, menilai, Pemerintah Kota Banjarmasin masih setengah hati menangani soal sampah. Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini tidak punya road-map jelas. Pemerintah Banjarmasin dianggap tidak konsisten terhadap beberapa langkahnya mengenai sampah. Karena bagaimanapun sebaiknya teknologi yang kita terapkan yang kita punya di pengelolaan sampah, kalau tidak dilalui dengan pengelolaan sampah itu sendiri, mulai dari rumah sudah dipilah. Jangan sampai sampah sudah terlanjur menumpuk tercampur dan sudah terkontaminasi dengan vektor penyakit itu akan lebih sulit lagi, oleh karena itu kita akan mencoba bagaimana kita mengajarkan medukasi kepada masyarakat khususnya dari anak kecil sudah kita coba belajar bagaimana mengelola sampah memisah sampah.

Saat ini beberapa metode pembuangan sampah yang ada di Kalimantan menggunakan metode open dumping adalah sistem pembuangan sampah di suatu cekungan terbuka tanpa menggunakan tanah sebagai penutup. Cara ini sudah tidak direkomendasikan lagi oleh pemerintah karena tidak memenuhi syarat teknis suatu TPA sampah. Open dumping berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan. Sistem ini mengakibatkan pencemaran air dan tanah karena cairan lindi serta pencemaran udara gas metana. Binatang seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk juga dapat berkembang biak di TPA open dumping.

Hanifah, menambahkan, Gubernur Kalsel dan Sekda Kalsel juga sudah mengeluarkan surat edaran terkait imbauan agar bupati/walikota terus melakukan inovasi pengelolaan sampah yang lebih baik, khususnya di wilayah yang TPA sampahnya masih memberlakukan open dumping.

  1. Solusi Pengelolaan Sampah Organik

Pengelolaan sampah organik terpadu melalui biokonversi larva Black Soldier Fly (BSF) menawarkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan untuk tantangan limbah perkotaan, seperti daerah perkotaan Pulau Kalimantan diantaranya banjarmasin, banjarbaru, kota baru, samarinda, palangkaraya, balikpapan, dll yang semakin hari kian bertambah penduduk seiring dengan adanya program pemerataan daerah dan pemindahan ibu kota negara (IKN). Dengan memanfaatkan kemampuan alami larva BSF dalam mengurai sampah organik, kota-kota dapat mengurangi volume limbah yang menuju tempat pembuangan akhir (TPA), mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menghasilkan produk bernilai tambah seperti pupuk organik dan pakan ternak serta produk turunan lainnya melalui proses riset dan development.

Implementasi solusi ini tidak hanya membutuhkan teknologi yang tepat, tetapi juga keterlibatan aktif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, komunitas lokal, dan masyarakat. Edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah serta manfaat biokonversi harus ditingkatkan untuk mendukung keberhasilan program ini.

Selain itu, dukungan kebijakan dan regulasi yang mendukung praktik ekonomi sirkular, termasuk insentif bagi perusahaan yang menerapkan biokonversi larva BSF, dapat mendorong adopsi yang lebih luas. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta juga penting untuk memastikan bahwa infrastruktur yang diperlukan tersedia dan berfungsi dengan efektif.

Di era di mana keberlanjutan menjadi kunci utama dalam pengembangan perkotaan, solusi seperti pengelolaan sampah organik dengan biokonversi larva BSF menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, limbah tidak lagi harus dilihat sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Dengan demikian, kita dapat bergerak menuju kota-kota yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan, sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.

 

(oleh Ahmad Mujahid)

DAFTAR REFERENSI

 

Cek juga postingan kita di : 
https://www.instagram.com/p/DO7DL1qE-gv/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==